Kisah

Temukan kisah-kisah perjalanan di sini!

Opini

Baca opini tentang peristiwa-peristiwa di sekitar kita!

Tag dan Award

Lihat tag dan award blog ini!

Pelacur(ku)

Tubuhnya semampai dengan kulit putih mulus. Bibir merah merekah dengan senyum yang seolah tak habis dipancarkannya. Sungguh, ia sangatlah belia. Barangkali saat itu ia baru berumur 16 tahun. Ia menjelma kembang kuncup diantara badan lapuk yang telah mati.

Di sudut kecil kota Denpasar, gadis itu menghabiskan hari-harinya dengan canda dan keriangan anak remaja. Menghuni kamar kos-kosan berukuran 3 x 5 meter di sebelah perguruan tinggi swasta, ia menyambut setiap sahabat yang datang meski hanya sekedar menyapa saja.

Badah, adi seng kuliah, ne? Pasti kiap?! Dini gen ngoyong, ajak ngorta (Duh, kok gak kuliah? Pasti ngantuk?! Di sini saja diam, ayo kita ngobrol),” ia menyapa dengan riangnya. Tak ada rasa canggung sedikitpun meski kadang orang yang datang membawa kawan yang tak dikenalnya.

Tiang be suud masuk. Seng ngidang konsen melajah. Terus gen opak jumah. Jaanan kene, bebas, heheee.... (Aku sudah berhenti sekolah. Gak bisa konsentrasi belajar. Kalau di rumah terus saja dimarah. Lebih enak seperti ini, bebas, heheee),” kisahnya seraya memperkenalkan dirinya sebagai Sri.

*****

Tak sedikitpun aku menyangka kalau Sri, gadis energik itu seorang pelacur. Yang lebih membuatku terkesima dengan kepolosannya, ia menceritakan semua itu kepadaku. Barangkali, tak satupun yang disembunyikan. Bahkan, sekedar mencoba untuk menyembunyikannya pun barangkali tidak. Mulai dari permasalahan-permasalahan yang dihadapinya hingga keputusannya untuk melakoni hidup (menurut kebanyakan orang) di dunia yang hina, hitam dan kelam.

Biasanne tiang telepon jak om (Biasanya Aku ditelpon sama “om” —lelaki hidung belang). Kita janjian ketemuan dimana, selanjutnya......” katanya seraya terkekeh.

Aku memahami, tawa itu tak selepas biasanya. Aku memahami, tawa itu masih tertahan diantara himpitan dan kegetiran hidupnya. Tawa itu adalah keterpaksaan diantara kepedihan ketika pisau-pisau bermata dua itu menghujam tubuhnya. Tawa itu menjelma jeritan, rintihan, kegalauan yang mencabik setiap orang.

Aku memahami pula, kalau sebenarnya aku sangatlah menghormatinya. Bukan simpati akan beratnya perjalanan hidup yang dijalaninya, tetapi kejujuran yang melebur di dalam dirinya.

Sungguh, tidaklah mudah mengakui diri sebagai seorang pelacur. Aku menghormati kejujuran yang masih dipegangnya meski menyandang predikat yang “hina”. Sungguh, aku jauh lebih menghormati seorang pelacur yang mau mengakui dirinya sebagai pelacur ketimbang pejabat dan para politikus yang tak ubahnya berperilaku layaknya seorang pelacur. Ya, aku lebih menghormatinya daripada pelacur-pelacur kekuasaan itu....

....................

maka ijinkanlah
malaikat itu pergi mengepak
sayap menuju perayaan

usahlah bersedih. malaikat
damai menyatu bersama Sang Kekasih



Turut berduka cita atas berpulangnya “Mbah Uti”, nenek gadis kecilku….

Minggu, 25 Januari 2009